Cara Unik Margoluwih Kepung Stunting Lewat Jalur Budaya
MARGOLUWIH
(Sleman) – Stunting atau kondisi gagal
tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis masih menjadi tantangan
besar dalam pembangunan sumber daya manusia di tingkat lokal maupun nasional.
Menanggapi hasil evaluasi data kesehatan dan komitmen bersama dalam Rembuk
Stunting Kalurahan Margoluwih, Pemerintah Kalurahan bersama seluruh elemen
masyarakat kini meluncurkan strategi terintegrasi berbasis kearifan lokal untuk
mewujudkan Margoluwih Bebas Stunting.
Strategi
ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi medis, melainkan juga menyentuh
aspek kultural dan penguatan ketahanan keluarga melalui dua pilar utama: Gerakan
Lakon Semar dan filosofi operasional KRESNA.
Mengapa Harus "Gerakan Lakon Semar"?
Dalam
khazanah pewayangan Jawa, tokoh Semar adalah representasi dari figur pamong
atau pengasuh sejati. Semar melambangkan pengayoman, kebijaksanaan,
kesederhanaan, serta komitmen penuh untuk memelihara kesejahteraan rakyat
kecil.
Terinspirasi
dari nilai luhur tersebut, Pemerintah Kalurahan Margoluwih mengaktualisasikannya
ke dalam Gerakan Lakon Semar, yang secara fungsional merupakan akronim
dari Layanan Pemeriksaan Kondisi Kesehatan Masyarakat Margoluwih.
Melalui
gerakan ini, Kalurahan Margoluwih memosisikan diri sebagai pamong yang
hadir secara nyata di tengah warga. Petugas kesehatan, pamong kalurahan, dan
kader posyandu bergerak aktif melakukan deteksi dini, jemput bola, pemantauan,
serta intervensi penuh terhadap status gizi ibu hamil maupun balita. Tujuannya
satu: memastikan tidak ada satu pun anak atau ibu hamil di Margoluwih yang
luput dari perlindungan gizi.
Menembus Batas dengan Cetak Biru "KRESNA"
Sebagai
panduan langkah teknis di lapangan, draf intervensi kesehatan diwujudkan
melalui akronim KRESNA, sosok kesatria cerdas yang dalam pewayangan
selalu membawa solusi taktis. KRESNA di Margoluwih dijabarkan menjadi 6 pilar
gerakan:
- K - Keluarga Sehat
Mewujudkan ketahanan kesehatan dimulai dari rumah. Pola
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta penyediaan menu makanan seimbang di meja
makan keluarga menjadi pondasi utama.
- R - Remaja Siap
Mempersiapkan masa depan sejak dini. Remaja putri (rematri)
di Margoluwih diajak untuk siap secara fisik dengan rutin mengonsumsi Tablet
Tambah Darah (TTD) satu kali seminggu demi memutus rantai anemia sebelum
mereka kelak memasuki jenjang pernikahan.
- E - Edukasi Ibu
Meningkatkan kapasitas pengetahuan kaum ibu mengenai
pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), manajemen laktasi (ASI
Eksklusif), serta teknik pengolahan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang kaya
nutrisi.
- S - Stunting Dicegah
Sebuah komitmen kolektif lintas sektor agar angka kejadian
kasus baru (insidensi) stunting di Kalurahan Margoluwih benar-benar menyentuh
angka 0%.
- N - Nutrisi Dijaga
Memastikan piring makan anak-anak kita diprioritaskan pada
asupan gizi makro dan mikro, terutama protein hewani tinggi seperti
telur, ikan lokal, dan hati ayam yang sangat krusial bagi pertumbuhan fisik dan
perkembangan otak.
- A - Menuju Anak Cerdas dan
Hebat
Muara akhir dari gerakan ini adalah melahirkan generasi
penerus Margoluwih yang memiliki kemampuan kognitif optimal, tumbuh tinggi,
sehat, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.
Menjawab Tantangan Berdasarkan Data Nyata
Berdasarkan
data Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2025, kita masih menghadapi beberapa
tantangan di lapangan. Di antaranya adalah angka kekurangan energi kronis (KEK)
pada ibu hamil yang masih memerlukan perhatian khusus, rendahnya kepatuhan
remaja putri dalam meminum TTD karena faktor rasa mual, hingga masih kurang
optimalnya tingkat partisipasi masyarakat (D/S) di beberapa Posyandu akibat
kendala waktu orang tua yang bekerja.
Pemerintah
Kalurahan Margoluwih mendengar kendala tersebut. Oleh karena itu, melalui
alokasi Dana Desa yang tepat sasaran, program-program intervensi kini dirancang
secara konkret:
- PMT Lokal Berkualitas: Anggaran Dana Desa difokuskan langsung untuk membeli
bahan pangan lokal kaya protein hewani untuk diolah menjadi Pemberian
Makanan Tambahan (PMT) selama 90 hari bagi balita gizi kurang dan ibu
hamil KEK melalui kelompok Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT).
- Posyandu Fleksibel &
Terstandar: Pengadaan alat ukur
antropometri digital berstandar Kemenkes dan penyesuaian waktu layanan
Posyandu agar ramah bagi orang tua yang bekerja.
- Standardisasi Kader: Melatih para kader posyandu agar memiliki kompetensi
konseling laktasi dan deteksi dini pertumbuhan anak yang terhambat.
Anggaran Desa: Berfokus pada Piring Makan Anak
Sebagai
bentuk pertanggungjawaban publik, Pemerintah Kalurahan berkomitmen penuh bahwa
pemanfaatan anggaran stunting dari Dana Desa akan mengedepankan prinsip
efisiensi. Anggaran tidak akan dihabiskan untuk acara seremonial, rapat-rapat
formal yang berulang, atau sekadar papan nama publikasi. Setiap rupiah dari
anggaran stunting harus langsung masuk dan berdampak pada piring makanan
anak-anak serta ibu hamil yang membutuhkan.
Mewujudkan
Margoluwih bebas stunting bukan hanya tugas kader kesehatan atau pemerintah
semata, melainkan kerja budaya dan kerja gotong royong kita bersama. Mari
sukseskan Gerakan Lakon Semar dan wujudkan keluarga KRESNA di
lingkungan kita masing-masing. Demi anak-anak Margoluwih yang cerdas, sehat,
dan hebat!
Penulis:
Parjiya & estri wahyuni
Komentar
Posting Komentar